Tampilkan postingan dengan label paper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paper. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2021

PENYEBAB ORANG YAHUDI TIDAK BERGAUL DENGAN ORANG SAMARIA


 

PENYEBAB ORANG YAHUDI TIDAK BERGAUL

DENGAN ORANG SAMARIA

Jenely Dinus Pati

Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabakti (FTW) Universitas Sanata Dharma (USD)



Pengantar

Penulisan paper ini bertujuan untuk mengenal dan memahami “siapa itu orang Yahudi?” dan “siapa itu orang Samaria?”. Tambahan lagi, penulisan paper ini juga mau mengenal dan memahami latar belakang yang menyebabkan orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh 4: 9). Penulisan dan bahasa paper ini sungguh sederhana. Perihal tersebut diharapkan dapat membantu para pembaca agar bisa memahami dengan mudah dan mendalam.

1. Orang Yahudi

Pada mulanya sebutan “orang Yahudi” hanya dikenakan oleh keturunan Yehuda anak Israel dari Lea (2Raj 16:6). Setelah kembali dari pembuangan semua bangsa Israel disebut orang Yahudi.[1] Orang Yahudi atau bangsa Israel terdiri dari dua belas suku yaitu; Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Yusuf dan Benyamin (Kej 49: 2-28). Bangsa ini hidup dalam satu kelompok sejak berada di Mesir dan sampai masa pemerintahan raja Salomo. Setelah raja Salomo meniggal dunia, Orang Yahudi atau bangsa Israel terbagi atas dua kerajaan yaitu; kerajaan utara yang meliputi sepuluh suku dan Kerajaan selatan yang meliputi dua suku (1Raj 12: 1-24).[2]

Kerajaan Israel adalah kerajaan utara sedangkan kerajaan Yehuda adalah kerajaan selatan.[3] Nama kerajaan “utara” dan “selatan” merujuk pada posisi area kekuasaan di mana kerajaan Israel terletak di utara sedangkan kerajaan Yehuda terletak di selatan.[4] Kerajaan utara terdiri atas sepuluh suku yaitu; Ruben, Simeon, Lewi, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, dan Yusuf. Sedangkan kerajaan selatan terdiri atas dua suku yaitu; Yehuda dan Benyamin (1Raj 12: 23-24). Kerajaan utara dipimpin oleh raja Yerobeam dan Kerajaan selatan dipimpin oleh raja Rehabeam (1Raj 12: 17,20).

Raja Rehabeam menjadi penyebab pecahnya bangsa Israel. Ketika bangsa Israel meminta keringan dari pajak dan pekerjaan mereka, Rehabeam meminta waktu tiga hari untuk mempertimbangkan hal tersebut (1Raj 12: 5). Perihal tersebut dibicarakannya dengan para penasihatnya. Namun pada akhirnya dia mengambil keputusan yang kurang tepat. Rehabeam tidak mengindahkan nasihat para tua-tua yang mendampingi Salomo, ayahnya. Dia malah mendengarkan nasihat orang-orang muda yang sebaya dengannya. Akhirnya Rehabeam memutuskan untuk menambah beban bangsa Israel. Keputusan tersebut menjadi penyebab orang Yahudi terbagi dalam dua kelompok. Dua suku dipimpin oleh Rehabeam. Lalu sepuluh suku lainnya mengangkat Yerobeam menjadi raja mereka.[5]

Pada akhirnya, dua kerajaan tersebut musnah. Kerajaan utara dimusnahkan oleh raja Asyur pada masa pemerintahan raja Hosea lalu bangsa Israel diangkut ke Asyur (2Raj 17: 23).[6] Sedangkan kerajaan selatan dimusnahkan oleh raja Babel mulai dari masa pemerintahan raja Yoyakin  (2Raj 24: 14-15) sampai pemerintahan raja Zedekia (2Raj 24: 18- 25: 7). Pada masa raja Yoyakin, semua orang di Yerusalem diangkut ke Babel kecuali orang lemah (2Raj 24: 14). Lalu pada masa pemerintahan raja Zedekia, semua orang di Yerusalem diangkut lagi ke Babel kecuali para tukang kebun anggur dan para peladang (2Raj 25: 11-12). Selain itu, raja Nebukadnezar juga memusnahkan Bait Allah di Yerusalem. Hal ini disebabkan oleh pemberontakan raja Zedekia terhadap raja Nebukadnezar, raja Babel.[7]

2. Orang Samaria

Orang samaria adalah orang Yahudi. Mereka adalah orang Israel yang tinggal di kota kerajaan utara yaitu; kota Samaria. Mereka adalah orang-orang Yahudi lapisan terendah yang dipindahkan oleh raja Asyur ke Yerusalem. Perpindahan tersebut terjadi ketika kerajaan Israel sudah dihancurkan oleh raja Asyur.[8] Di samping itu, mereka adalah orang Yahudi yang tidak murni lagi. Hal tersebut disebabkan oleh perkawinan campur atau perkawinan dengan bangsa lain yang bukan bangsa Israel. Hal itu terjadi ketika mereka ditaklukkan oleh raja Asyur. Mereka melakukan kawin campur dengan orang Asiria.[9]

3. Penyebab Orang Yahudi Tidak Bergaul dengan Orang Samaria

Orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan adalah mereka yang hidup baik. Mereka sungguh menjaga kemurnian sebagai orang Yahudi. Bahkan hidup keagamaan mereka juga baik. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan berbakat. Oleh karena itu, mereka bertekad untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Allah.[10]

Ketika orang Samaria mendengar bahwa orang Yahudi hendak membangun Bait Allah, mereka menawarkan diri untuk membangun bersama karena mereka juga menyembah kepada Allah. Selain itu, mereka juga orang Yahudi. Namun niat baik tersebut ditolak oleh orang Yahudi (Ezr 4: 1-3). Mereka menolak keterlibatan orang Samaria karena bagi mereka orang Samaria bukanlah orang Yahudi yang murni lagi. Hal itu disebabkan oleh perkawinan campur yang dilakukan oleh orang Samaria.[11]

Persoalan tersebut menjadi semakin parah ketika Ezra turut campur tangan. Ezra mencegah semua perkawinan campur. Bahkan dia tidak hanya mencegah perkawinan campur tersebut tetapi juga menghacurkan perkawinan campur yang sudah terjadi. Perkawinan campur tersebut dihancurkan oleh Ezra secara kejam.[12]

Penolakan yang dialami oleh orang Samaria menjadi pendorong bagi mereka untuk membangun kenisah sendiri. Mereka membangun kenisah sendiri di Gunung Gerizim.[13] Hal ini menjadi puncak ketegangan di antara orang Yahudi dan orang Samaria. Hal ini membuat orang Yahudi dan orang Samaria semakin terpisah jauh karena mereka tidak melaksakan ibadah di tempat yang sama lagi. Orang Yahudi beribadah di Yerusalem sedangkan orang Samaria beribadah di Gunung Gerizim.

Kenisah yang dibangun oleh orang Samaria ternyata menjadi persoalan. Hal tersebut menyebabkan ketegangan antara orang Samaria dan orang Yahudi semakin besar. Orang Samaria tidak lagi mengakui Bait Allah di Yerusalem sebagai rumah Allah. Mereka mengklaim kenisah merekalah yang lebih pantas menjadi rumah Allah yang sejati. Bagi mereka, kenisah merekalah yang dipilih dan diberkati oleh Allah.[14] Tambahan lagi, orang Samaria juga tidak mengakui kitab-kitab yang ada pada orang yang Yahudi kecuali kelima kitab Musa.[15]

Sebaliknya orang Yahudi juga menganggap bahwa kenisah orang Samaria tidak suci. Bahkan tempat tersebut dianggap tidak layak untuk mempersembahkan korban. Anggapan tersebut muncul dari sebagian besar orang Yahudi. Bagi mereka hanya satu tempat yang dipilih oleh Allah. Oleh karena itu, mereka tidak mengakui adanya tempat yang kedua karena Allah hanya menetapkan satu tempat di salah satu suku Israel (Ul 12: 14).[16]

Kesimpulan

Berdasarkan semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pecahnya kerajaan Israel menjadi cikal bakal bagi perpecahan orang Yahudi atau penyebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Perihal tersebut semakin berkembang ketika orang Yahudi menolak tawaran kerja sama dari orang Samaria untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem. Penolakan tersebut diakibatkan oleh rasa tidak suka karena bagi mereka orang Samaria bukan orang Yahudi asli lagi melainkan sudah bercampur dengan bangsa lain. Pada akhirnya orang Samaria membangun kenisah sendiri di gunung Gerizim. Bahkan mereka juga tidak mengakui kitab-kitab yang ada pada orang yang Yahudi kecuali kelima kitab Musa. Itulah hal-hal yang menyebabkan orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.


DAFTAR PUSTAKA

Kitab Suci

Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2015.

Buku

Carr, David M. 2010. An Introduction to the Old Testament : Sacred Texts and Imperial Contexts of the Hebrew Bible. Wiley-Blackwell: United Kingdom.

Wislocki, Lou. 2019. The Evolution of the Gospel in the Bible. Papias Press: Veto St Grand Rapids.

Dewberry, William. 2014. Communion of Love. AuthorHouse: Bloomington.

Rothery, Francis. 2014. Missional: Impossible!: The Death of Institutional Christianity and the Rebirth of G-d. Wipf and Stock Publishers: Eugene.

Pitts, David and Pitts, Martha. 2010. Carvings on the Heart. Tin Cup Projects: Colorado.

Douglas, J. D. and Tenney, Merrill C. Revised by Silva, Mosés. 2011.  Zondervan Illustrated Bible Dictionary. Zondervan: Michigan.

Nelson, Thomas. 2014. The Chronological Study Bible, New International Version. Thomas Nelson: Nashville Dallas Mexico City Rio De Janerio.

Weiden, Wim van der dan Suharyo Ignatius. 2000. Pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama. Kanisius: Yogyakarta.

Storm, Mel. 2014. Living Lord, Empowering Spirit, Testifying People: The Story of the Church in the Book of Acts. Wip and Stock: Eugene.

Ed. by  Neusner, Jacob, Green, William Scott, and Frerichs, Ernest S. 1987. Judaisms and Their Messiahs at the Turn of the Christian Era. Cambridge University: New York.

Pummer, Reinhard. 2002. Early Christian Authors on Samaritans and Samaritanism. J.C.B. Mohr (Paul Siebeck): Tübingen.

Esiklopedia

1967. New Catholic Encyclopedia. Vol. XII: Qat to Scr. McGraw-Hill Book Company: New York St Louis San Francisco Toronto London Sydney.

Heuken, Adolf. 1995. Ensiklopedia Gereja. Jilid V: Tr-Z, Sejarah Gereja di Indonesia, Sejarah Gereja di Asia. Yayasan Cipta Loka Caraka: Jakarta.



[1] Bdk. Heuken, Adolf, Ensiklopedia Gereja. Jilid V: Tr-Z, Sejarah Gereja di Indonesia, Sejarah Gereja di Asia, (Yayasan Cipta Loka Caraka: Jakarta, 1995), 115.

[2] The people are largely the descendants of the Ten Tribes of Israel that broke away from Judah at the death of Salomon. New Catholic Encyclopedia. Vol. XII: Qat to Scr, (McGraw-Hill Book Company: New York St Louis San Francisco Toronto London Sydney, 1967), 1009.

[3] This is distinction between "Judah" in the south and "Israel" in the north. Carr, David M,

An Introduction to the Old Testament : Sacred Texts and Imperial Contexts of the Hebrew Bible, (Wiley-Blackwell: United Kingdom, 2010), 23.

[4] The Kingdom of Israel located in the north, and the Kingdom of Judah in the south. Storm, Mel, Living Lord, Empowering Spirit, Testifying People: The Story of the Church in the Book of Acts, (Wip and Stock: Eugene, 2014), 16.

[5] After Solomon died, the people of Israel asked Rehobeam (his name meaning, he enlarges the people) to lighten the burden and labor Salomon had forced on them-excessive taxes the requisition of resources and a labor force. Rehoboam foolishly took the advise of his counselors and rejected their demands. Jeroboam (meaning he pleads the people's cause), who Salomon had exiled for treason, seized the opportunity to rally many of the tribes in rebellion against Rehoboam. Ten Tribes-after that referred to as Israel or Ephraim-broke away, leaving Rehoboam to rule only two-Judah and Benjamin. Wislocki, Lou, The Evolution of the Gospel in the Bible, (Papias Press: Veto St Grand Rapids, 2019), 18.   

[6] During the reign of King Hoshea of Israel, the Assyrians completed the destruction of the northern kingdom, and in 722 B.C, Israel was exiled to Assyria. Dewberry, William, Communion of Love, (AuthorHouse: Bloomington, 2014), 61.

[7] Rebellion by Zedekiah was the final straw for the Babylonians. Nebuchadnezzar marched on Jerusalem in 586 B.C. and breached the walls. He destroyed the temple that Judah had thought was invulnerable, took more of Judah's elite into exile. Carr, David M, An Introduction to the Old Testament : Sacred Texts and Imperial Contexts of the Hebrew Bible, 167.

[8] Bdk. Weiden, Wim van der dan Suharyo Ignatius, Pengantar Kitab Suci Perjanjian Lama, (Kanisius: Yogyakarta, 2000), 82.

[9] The Samaritans were a mixed race people who had intermarried with the Assyrians. Rothery, Francis, Missional: Impossible!: The Death of Institutional Christianity and the Rebirth of G-d, (Wipf and Stock Publishers: Eugene, 2014), 206.

[10] The Jewish exiles who returned to Jerusalem were people who had lived well in Babylon and Persia and had amassed great wealth. The people were intelligent and talented and were able to rebuild their civilization and practice their religion freely. The people banded together in unity and were determined to restore the city of Jerusalem and the temple of the Lord. Among those who returned to Jerusalem was a Levitical priest named Zerubbabel. Dewberry, William, Communion of Love, 77.

[11] The Samaritans offered to help, but the Jewish leaders refused, not wanting to mix with the non-Jews. Samaritans were half-Jew, half-Gentile. Pitts, David and Pitts, Martha, Carvings on the Heart, (Tin Cup Projects: Colorado, 2010), 39.

[12] The split was increased by the ruthlessness with which Ezra prevented and even destroyed already existing meriages. New Catholic Encyclopedia. Vol. XII: Qat to Scr, 1009.

[13] After the Israelites, returning from Babylonian exile, refused to let the mixed races of Samaria help rebuild Jerusalem (Ezra 4:1-4; Neh. 2:19-20; 13:28), the Samaritans built themselves a temple on Mount Gerizim. Douglas, J. D. and Tenney, Merrill C. Revised by Silva, Mosés, Zondervan Illustrated Bible Dictionary, (Zondervan: Michigan, 2011), 521.

[14] Tension between Samaritans and Jews goes back at least to the reconstruction of the Jerusalem temple (538 b.c.). Yet a definite break between these groups occurred around either 388 or 332 B.C. when the Samaritans built a rival temple on Mount Gerizim, claiming Shechem rather than Jerusalem as the location of the true house of God. Nelson, Thomas, The Chronological Study Bible, New International Version, (Thomas Nelson: Nashville Dallas Mexico City Rio De Janerio, 2014) 1066.

[15] In reality all Samaritans rejected the prophetic books of the Jewish Bible , accepting only the Pentateuch as Scripture. Pummer, Reinhard, Early Christian Authors on Samaritans and Samaritanism, (J.C.B. Mohr (Paul Siebeck): Tübingen, 2002), 33.

[16] Many other Jews - indeed , entire sects - held the Second Temple to be incompletely holy or even completely unfit for for the offering of sacrifice. If it was not God's Chosen Place, Deuteronomy 12: 5-14 would no longer forbid the existence of other Jewish sacrificial shrines. Jews might be free to recognize the legitimacy of other holy places , such as the Samaritan shrine on Mount Gerizim. Ed. by  Neusner, Jacob, Green, William Scott, and Frerichs, Ernest S., Judaisms and Their Messiahs at the Turn of the Christian Era, (Cambridge University: New York, 1987), 70.

Minggu, 03 Februari 2019

Paper tentang Santo Paulus Rasul dari Tarsus



SANTO PAULUS RASUL DARI TARSUS

Rasul kelahiran Tarsus ini pada awalnya bernama Saulus. Rasul Paulus lahir sekitar tahun 5 – 15 dan sejak kecil dia sangat tertarik pada disiplin militer sehingga dalam dirinya tumbuh watak seorang militer.[1] Perubahan nama Santo Paulus Rasul dari bahasa Ibrani menjadi bahasa Romawi bukan hanya karena pertobatannya tetapi juga karena pada zaman itu mengganti nama bukanlah hal yang sulit.[2] Buktinya setelah Santo Paulus Rasul bertobat kita dapat melihat di dalam kitab suci yang masih menggunakan nama Saulus sampai pada Kisah Para Rusul bab 13 (bdk. Kis 13: 1-2,4,7,9). Sebelum bertobat Santo Paulus Rasul dikenal sebagai orang yang sangat kejam terhadap para pengikut Yesus Kristus. Semangat Santo Paulus Rasul sangat berkobar-kobar untuk menghancurkan kehidupan jemaat perdana karena sejak kecil dia dididik sebagai orang Farisi sehingga dia wajib menjaga leluhur bangsanya dengan baik.[3] Oleh itu kekejaman Santo Paulus Rasul terhadap jemaat perdana tidak hanya hadir dari dirinya sendiri melainkan didikannya sejak kecil.
Pertobatan Santo Paulus Rasul dimulai dari kisah perjalanannya menuju ke Damsyik (bdk. Kis 9:3-9). Pada saat itu cahaya dari langit mengelilinginya dan dia mendengar suara Yesus yang bersabda kepadanya. Setelah kejadian itu Santo Paulus Rasul bangkit berdiri dan membuka matanya tetapi dia tidak dapat melihat apa-apa karena matanya telah menjadi buta. Oleh itu dia dituntun oleh teman-teman seperjalannya ke Damsyik. Di Damsyik Tuhan telah menyiapkan Ananias sebagai pengantara pertemuan antara Rasul Paulus dengan Yesus.[4] Santo Paulus Rasul dibaptis oleh Ananias saat berada di Damsyik. Setelah menjadi pengikut Yesus Kristus Paulus juga mendapat tantangan yang hebat terutama ketika dia dilempari batu oleh orang-orang Yahudi (bdk. Kis 14:19). Saat itu orang-orang menyangka bahwa Paulus sudah mati namun ketika dikelilingi oleh murid-murid dia bangkit lagi (bdk. 14:20).
Setelah dibaptis oleh Ananias, Santo Paulus rasul memulai hidup baru bersama-sama dengan Jemaat Perdana. Pada awalnya Paulus bermisi bersama-sama dengan Barnabas namun setelah terjadi perselisihan mereka tidak bersama-sama lagi.[5] Dalam karya misi Paulus yang kedua Barnabas sudah tidak bersama-sama dengan dia. Misi Paulus yang kedua dimulai dari Asia Kecil, Makedonia, Yunani, Tesalonika, Atena, Korintus dan pada akhirnya dia kembali ke basis misinya. Karya misi Paulus yang ketiga dimulai dari Efesus, Yunani dan sampai ke Yerusalem.
Perjalanan misi terakhir Paulus ialah ke Roma. Paulus tinggal di rumah yang disewanya di Roma selama dua tahun (bdk. Kis 28:30). Di Roma Paulus mewartakan kerajaan Allah dan menerima semua orang yang datang kepadanya (bdk. Kis 28:31). Pada akhirnya Paulus meninggal karena kepalanya dipenggal. Saat dipenggal terlihat air dan darah yang mengalir dari tubuh Paulus.
Paulus merupakan rasul yang paling banyak menulis surat untuk jemaat-jemaat yang telah mendapat pewartaan tentang Yesus Kristus dan juga untuk teman-temnnya. Semua tulisan Paulus memberikan pengajaran dan inspirasi yang dapat membuat kehidupan orang kristen menjadi lebih indah seperti pelangi yang menghiasi alam pada saat hujan. Surat-surat yang ditulis oleh Paulus yaitu;
1.      Surat Paulus kepada jemaat di Roma.
2.      Surat Paulus yang pertama dan kedua kepada jemaat di Korintus.
3.      Surat Paulus kepada jemaat di Galatia.
4.      Surat Paulus kepada jemaat di Efesus.
5.      Surat Paulus kepada jemaat di Filipi.
6.      Surat Paulus kepada jemaat di Kolose.
7.      Surat Paulus yang pertama dan kedua kepada jemaat di Tesalonika.
8.      Surat Paulus yang pertama dan kedua kepada Timotius.
9.      Surat Paulus kepada Titus.
10.  Surat Paulus kepada Filemon.
Kendati Santo Paulus Rasul pada awalnya merupakan orang yang anti terhadap para pengikut Yesus Kristus. Namun pertobatannya menjadi ekspektasi bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus. Semua ini dapat kita lihat melalui karya-karya Paulus. Karya-karyanya bukan hanya pada pewartaan tetapi juga semua tulisannya.

DAFTAR PUSTAKA

KITAB SUCI
Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2015.

SUMBER BUKU UTAMA

SUMBER BUKU PENUNJANG
Susianto Budi, Silvester. Mengenal Kitab Suci Perjanjian Baru. Yogyakarta: Pohon Cahaya, 2014.
Benediktus . Para Rasul: Asal-usul Gereja dan Para Teman Sekerja Mereka (Judul Asli: The Apostles: The Origins of the Church and Their Co-workers), Penterj. Emanuel P. D. Martasudjita (Yogyakarta: Kanisius), 2015.

ü  Carilah ayat di dalam Kitab Suci yang menunjukan bahwa Paulus hampir mati!
“Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.” (Kis 14:19).


[1] Bdk. Silvester Susianto Budi, Mengenal Kitab Suci Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 2014), 37-39.
[3] Bdk. Benediktus . Para Rasul: Asal-usul Gereja dan Para Teman Sekerja Mereka (Judul Asli: The Apostles: The Origins of the Church and Their Co-workers), Penterj. Emanuel P. D. Martasudjita (Yogyakarta: Kanisius, 2015), 112.
[4] Bdk. St Darmawijaya, Ibid., 123.
[5] Bdk. St Darmawijaya, Ibid., 182.

Paper Pemerintahan dari Herodes Agung sampai Agripa II



PEMERINTAHAN DARI HERODES AGUNG SAMPAI AGRIPA II

1.      Herodes Agung
Herodes Agung merupakan seorang Edom, keturunan Esau anak Ishak dan bercita-cita untuk menjadi raja Israel pada suatu waktu. Herodes Agung menjadi raja atas bangsa Israel pada tahun 37 sebelum Kristus.[1] Pada saat Hirkanus yang memerintah Israel, Herodes Agung memerintah Galilea. Herodes selalu tunduk dan memenuhi kemauan Hirkanus dengan tujuan untuk menggapai cita-citanya. Ketika Yerusalem diserang oleh orang-orang Patria dan menangkap raja Hirkanus. Herodes dengan segera berangkat ke Roma untuk meminta bantuan. Roma dengan segera mengirim tentaranya dan mengalahkan orang-orang Patria serta membebaskan raja Hirkanus. Setelah Yerusalem bebas dari orang-orang Patria, Herodes mulai mengambil hati pihak yang berkuasa. Oleh itu raja Hirkanus tidak lagi diangkat sebagai raja. Hirkanus dibunuh oleh Herodes ketika berusia 80 tahun. Dengan demikian tercapailah cita-cita Herodes. 
Herodes mendapat julukan “Agung” bukan karena kebaikannya melainkan untuk membedakan dia dari anak-anaknya dan untuk menunjukan pemerintahannya yang sangat kejam.[2] Salah satu kekejaman dalam pemerintahan Herodes Agung adalah perintah untuk membunuh bayi-bayi lelaki di Betlehem (bdk. Mat 2:16). Selain itu dia juga menyuruh orang-orangnya untuk membunuh istrinya, membunuh tiga orang anak kandungnya dan membunuh keluarga dekatnya serta menghukum mati orang-orang yang berani menyatakan  tidak setuju padanya.[3] Dari semua kejadian tersebut kita dapat melihat bahwa betapa kejamnya Herodes Agung saat menjadi raja Israel. Sekalipun terhadap darah dagingnya dia tidak peduli. Selain itu raja Herodes Agung memperoleh kekayaan yang sangat besar dengan cara merampok orang-orang yang kaya.[4] Semua kekayaannya digunakan untuk kemewahan hidupnya di istana, membiayai tentaranya dan untuk memberi hadiah kepada sahabat-sahabatnya. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa tujuan utama dari kekejaman Herodes Agung adalah untuk mempertahankan kedudukannya.
Di sisi lain Herodes Agung juga memiliki sikap-sikap yang terpuji. Ketika rakyat di negerinya mengalami musibah kelaparan yang hebat, dia menjual semua emas dan perak yang ada di istananya untuk membeli gandum di Mesir dan memberi gandum tersebut kepada mereka yang kelaparan.[5] Dia juga sangat menghargai semua hubungan luar negeri dengan melestarikan hubungan persahabatannya tersebut dan sikapnya itu mendapat kepercayaan yang begitu besar. Meskipun Herodes Agung terkenal karena kekejamannya dalam pemerintahan. Namun dia juga memiliki kebaikan yang cukup luar biasa karena ketulusannya dalam hubungan persahabatan dan cintanya terhadap rakyatnya yang menderita kelaparan. Selain itu dia juga memperbaiki Bait Suci sehingga menjadi lebih indah.
Raja Herodes Agung wafat pada tahun 4 sM, hal ini bertentangan dengan tahun yang kita gunakan pada saat ini karena raja Herodes Agung masih hidup selama dua tahun setelah kelahiran Tuhan Yesus Kristus.[6] Secara matematis kita dapat menyimpulkan dua hal yaitu;
1.      Yesus Kristus lahir pada tahun 6 sM karena setelah Yesus berumur dua tahun baru raja Herodes Agung meninggal.
2.      Tarikh yang kita gunakan sekarang tidak betul karena pada tahun 6 sM Yesus sudah lahir sehingga dapat disimpulkan bahwa sepatutnya pada tahun 6 sM adalah Tahun 1 sM. Maka menjadi jelas bahwa raja Herodes Agung meninggal pada tahun 2 M.
2.      Anak-Anak Herodes Agung (Arkhelaus, Herodes Antipas dan Filipus)
Setelah kematian raja Herodes Agung, muncul berbagai pemberontakan-pemberontakan karena bangsa Yahudi sangat benci kepada keluarga Herodes dan mereka juga mengirim beberapa orang Yahudi untuk memohon kepada kaisar Agustus agar tidak mengangkat anak-anak Herodes Agung menjadi raja di Israel.[7] Namun kaisar Agustus agak ragu-ragu untuk membuat keputusan sehingga pada akhirnya dia tidak mengindahkan permohonan orang-orang Yahudi melainkan membagi kerajaan Israel Menjadi tiga bagian untuk diperintah oleh anak-anak raja Herodes Agung.[8] Kaisar Agustus membagikan kerajaan tersebut kepada mereka dengan bagian masing-masing:
1.      Arkhelaus memerintah di Yudea, Idumea dan Samaria.
Arkhelaus memerintah dalam waktu sepuluh tahun. Pemerintahannya tidak dapat berlangsung lama karena dia dipecat dari jabatannya oleh kaisar Agustus. Pemecatan ini terjadi karena adanya keluhan dari Yudea dan Samaria yang menjadi pertimbangan bagi kaisar Agustus. Selain Itu pemerintahan Arkhelaus juga dapat menandingi kekejaman ayahnya raja Herodes Agung sehingga membahayakan keamanan dan ketenteraman jalur perdagangan yang terpenting dari Siria menuju Mesir.[9] Pada akhirnya daerah kekuasaan Arkhelaus diperintah oleh wali negeri Romawi.
2.      Herodes Antipas memerintah di Galilea dan Perea.
Pemerintahan Herodes Antipas hampir menyerupai ayahnya dan saudaranya karena dia juga membangun suatu kota dan kota tersebut bernama Tiberias mengikuti nama kaisar Tiberius.[10] Pada mulanya dia menikah dengan puteri Aretas IV namun setelah menceraikan istrinya, dia menikah dengan Herodias istri Filipus saudaranya yang menyebabkan kematian santo Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 14:3). Dia juga Herodes yang mengadili Yesus sebelum disalibkan.[11]
3.      Filipus memerintah di Iturea dan Trakhonistis.
Filipus merupakan raja yang sangat rendah hati, adil dan benar dalam segala tindakannya.[12] Filipus menikah dengan anak puteri Herodias yang menyebabkan kematian Santo Yohanes Pembaptis. Dia memiliki satu kesamaan dengan ayahnya yaitu; suka memperhatikan gedung-gedung. Dalam pemerintahannya, dia memugar dan memperbesar kota Panias. Kota ini dinamakan Kaisarea Filipi. Filipus meninggal pada tahun 33 M atau 34 M.[13] Setelah Filipus meninggal, negaranya digabungkan dengan Siria dan pada tahun 37 diberikan kepada Agripa I.
3.      Agripa I dan Agripa II
-      Pemerintahan Agripa I
Agripa I sangat disenangi oleh golongan-golongan terkemuka dalam negaranya. Dia diangkat sebagai raja di seluruh daerah pemerintahan kakeknya, Herodes Agung oleh Klaudius sebagai ungkapan terimah kasihnya kepada Agripa I yang telah melakukan peran penting di Roma.[14] Setelah dua tahun Agripa I mendapat warisan pemerintahan dari Filipus, dia juga terlibat dalam usaha untuk menyingkirkan Herodes Antipas sehingga Herodes Antipas dibuang dan Agripa I menerima semua daerahnya. Meskipun dia telah diangkat oleh Klaudius untuk menjadi raja, tetapi dia tidak sombong pada Klaudius, buktinya dia masih membantu Klaudius dalam perang menyelesaikan bentrokan antara orang-orang Galilea dan orang-orang Samaria yang disebabkan oleh seorang Galilea yang terbunuh di Samaria dan tidak diurus oleh Ventidus Cumanus wali negeri yang memerintah Samaria dan Galilea.[15]  Dialah yang menyuruh orang membunuh Yakobus saudara Yohanes dengan pedang.[16] Agripa I meninggal ketika sedang berpidato kepada rakyatnya karena pada waktu itu dia tidak memberi hormat kepada Allah sehingga ditampar oleh malaikat Tuhan lalu mati dimakan oleh cacing (bdk. Kis 12:21-23).

-      Pemerintahan Agripa II
Agripa II merupakan anak dari Agripa I. Pada tahun 44 saat ayahnya meninggal dia baru berusia tujuh belas tahun.[17] Dia mendapat pendidikan di Roma dan setelah ayahnya meninggalpun dia masih berada di Roma. Dia diangkat menjadi raja Khalkis, suatu daerah kecil di Libanon pada tahun 49 dan juga mengawasi Bait Allah serta mendapat hak untuk mengangkat imam besar. Pada tahun 53 kerajaannya mulai meluas karena ditambah dengan daerah Abilene dan dia juga mendapat hadiah dari Nero yaitu untuk memerintah kota Abila, kota Yulias, kota Tiberias dan kota Tarikhea. Dalam masa pemerintahannya sempat terjadi bentrokan yang diakibatkan oleh kehilangan uang pajak.[18] Masalah tersebut tidak dapat diselesaikan oleh Agripa II. Di sisi politik dia sangat setia pada Roma, buktinya semua uang yang dicetak tertera nama dan gambar kaisar. Dia meninggal sekitar tahun 92 karena ceritanya tidak pasti dan kebenarannya juga diragukan.[19]
Pada akhirnya kita dapat mengetahui bahwa pimpinan dari anak-anak, cucu dan cicit Herodes Agung membawa sifat-sifatnya dalam tugas sebagai raja. Meskipun tidak semuanya ada pada masing-masing pribadi dari anak-anaknya, cucunya dan cicitnya. Mereka sungguh mewakili kebaikan dan kejahatan yang telah dilakukan oleh Herodes Agung.

DAFTAR PUSTAKA

KITAB SUCI
Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2015.

SUMBER BUKU UTAMA
Jagersma, H. Dari Aleksander Agung sampai Bar Kokhba : Sejarah Israel dari  sM. – 135 M. (Judul Asli: Geschiedenis van Israel van Alexander de Grote tot Bar Kochba), Penterj. Soeparto Poerbo (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia), 2003.

SUMBER BUKU PENUNJANG
Bergant, Dianne dan Karris, Robert J. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. (Judul Asli: The Collageville Bible Commentary), Penterj. A. S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisuis), 2002.


[2] Bdk. H. Jagersma. Dari Aleksander Agung sampai Bar Kokhba : Sejarah Israel dari  sM. – 135 M. (Judul Asli: Geschiedenis van Israel van Alexander de Grote tot Bar Kochba), Penterj. Soeparto Poerbo (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), 147.
[3] Bdk. David L Barker dan John J Bimson. Ibid., 4.
[4] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 155.
[5] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 148.
[6] Bdk. J. H. Bavinck. Sejarah Kerajaan Allah 2 : Perjanjian Baru. Penterj. A. Simanjuntak (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2007), 10.
[7] Bdk. J. H. Bavinck. Ibid., 5.
[8] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 163.
[9] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 164.
[10] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 165.
[11] Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. (Judul Asli: The Collageville Bible Commentary), Penterj. A. S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisuis, 2002), 247.
[12] Bdk. J. H. Bavinck. Ibid., 6.
[13] Bdk. J. H. Bavinck. Ibid., 6.
[14] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 186.
[15] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 188.
[16] Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Ibid., 247.
[17] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 189.
[18] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 191.
[19] Bdk. H. Jagersma. Ibid., 191.